FPK Jatim Anjangsana dan Beri Tali Asih
Sidoarjo – Tidak sedikit cerita duka dialami para pelaku seni yang di masa senjanya harus ‘menderita’ terutama menyangkut ekonomi dan kehidupannya. Lebih miris lagi, pemerintah daerah setempat seolah kurang memperhatikan nasib dan kehidupan mereka. Tak begitu peduli terhadap nasib pelaku seni yang mayoritas berusia lanjut.
Karena itu, Ketua Forum Pamong Kebudayaan (FPK) Jawa Timur, Ki Bagong Sabdo Sinukarto, menyentil pemerintah pusat, provinsi dan kota/kabupaten agar memberi perhatian terhadap nasib dan kelangsungan hidup para pelaku seni alias seniman/seniwati yang sepuh.
“Mereka memiliki andil besar terhadap keberlangsungan budaya dan kesenian, di saat mudanya terutama di yang berada di daerah. Para pelaku seni yang juga pecinta budaya itu, seyogyanya mendapat perhatian dari penguasa dan pemimpin daerah,” ujar Ki Bagong, di sela acara silahturahmi dengan pelaku seni dan pecinta budaya sepuh se Sidoarjo, di Kampoeng Seni Sidoarjo, Jumat (29/03/2024),
Ki Bagong menyebut, masing-masing pemerintah daerah (Pemda) setempat terkadang abai dengan keberadaan pelaku seni sepuh. Dengan melibatkan mereka dalam ajang kebudayaan tradisional saat peringatan khusus, atau setidaknya sebagai penasehat atau narasumber, tentu membuat pelaku seni sepuh itu merasa mendapat ‘tempat’ tersendiri. Diajeni.
“Minimal, pelaku seni sepuh mendapatkan kepedulian dari pemda setempat. Dengan memberi mereka tunjangan hari tua yang diberikan perbulan, permudah layanan kesehatan, perlakuan khusus, dan layanan lain bersifat skala prioritas. Jangan pernah mengabaikan keberadaan beliau-beliau itu,” desak Ki Bagong.

Ki Bagong (tengah baju hitam) saat bersilahturahmi dengan para pelaku seni dan pecinta budaya sepuh se Sidoarjo (foto: ist)
Hal lain, Ki Bagong berharap unsur di luar pemerintahan, diantaranya komunitas seni, baik seni lukis, musik dan lainnya, terutama yang masih produktif, memberikan ruang bagi pelaku seni sepuh tersebut.
“Bila perlu, libatkan mereka dalam ajang kesenian dan budaya, sehingga terjalin komunikasi dan silahturahmi lintas generasi,” imbuh dia.
Pria gondrong, salah satu inisitor dibentuknya Menteri Kebudayaan itu juga berharap agar pihak swasta dan pengusaha juga memberi sumbangsih terhadap nasib dan kelangsungan para pelaku seni dan pecinta budaya di masing-masing wilayahnya.
Seiring dengan asa Ki Bagong, pada bulan Ramadhan kali ini, FPK Jawa Timur mengadakan anjangsana ke sejumlah pelaku seni dan pecinta budaya se Jawa Timur. Anjangsana dikemas dalam forum silahturahmi dan pemberian tali asih kepada mereka.
Seperti di Sidoarjo, anjangsana FPK Jawa Timur dihadiri para pelaku seni pecinta budaya sepuh setempat. Diantara mereka, yakni Amdo Brada, Sutardji atau mbah Dji Dalang, Nurhayati alias Uti Nur yang penggiat musik irama keroncong dan Macopat, mbah Malik, mbah Salman, Pak Harso, mbah Kasan, dan mbah Slamet, serta lainnya. Nampak hadir pada forum tersebut, Ketua FPK Sidoarjo Inung, dan salah seorang pelaku dan pemerhati seni, Karmawan.
Di akhir acara, Ki Bagong berharap agar FPK Sidoarjo mampu menjembati para pelaku seni dan pecinta budaya sepuh dengan berbagai pihak lain. (brint)

