Beranda » Berobat Cukup Sebut NIK, Kartu BPJS Kesehatan tak Wajib Dibawa

Berobat Cukup Sebut NIK, Kartu BPJS Kesehatan tak Wajib Dibawa

Jakarta, JNN – Tahun ini, JKN-KIS bakal memudahkan pelayanan bagi rakyat, khususnya saat hendak berobat. Pasien cukup menyebutkan Nomor Induk Kependudukan (NIK), dan tidak wajib menunjukkan kartu JKN-KIS.

Terkait kemudahan administrasi itu, Direktur BPJS Kesehatan, Ali Ghufron mengatakan, NIK adalah nomor identitas penduduk yang bersifat unik, khas dan tunggal yang melekat pada seseorang sebagai penduduk Indonesia.

“Dalam rangka memudahkan administrasi kepesertaan, NIK kini sebagai pengganti kartu JKN KIS. Teknologi sudah canggih, jadi (berobat) cukup dengan NIK, gak perlu kartu BPJS lagi,” kata dia saat acara Launching Penggunaan NIK secara virtual.

Ditambahkan, NIK juga menjadi kunci penting alam menentukan setiap akses pengelolaan data, validitas dan eligibilitas data ketika peserta mengakses pelayanan JKN-KIS.

Penggunaan NIK, lanjut Ali Ghufron, juga sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2019 tentang Satu Data Indonesia untuk mewujudkan keterpaduan perencanaan, evaluasi dan pengendalian pembangunan dengan didukung data yang akurat, mutakhir, terpadu, hingga dapat dipertanggungjawabkan.

“Jadi peserta gak perlu cetak kartu BPJS dan kita berharap cukup menyebutkan NIK kemana-mana, atau cukup menunjukkan e-ktp atau KIS Digital,” ucap dia.

Diharapkan, inovasi tersebut bisa memberikan kemudahan akses dan akomodir layanan peserta, juga memudahkan pemangku kepentingan.

“Tapi karena banyak yang belum tahu, maka jadi PR untuk informasikan kepada khalayak,” tambah dia.

Soal inovasi ini, Dirjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri, Zudan Arif Fakrulloh, mengungkapkan dengan pemanfaatan NIK menjadi nomor identitas, diharapkan juga akan mendorong seluruh masyarakat untuk segera memiliki e-KTP/NIK.

“Kita juga perlu awareness untuk melindungi data dan setelah ini juga cepat bertransformasi bisa pakai sidik jari agar semakin mempercepat pelayanan di segala bidang,” terang dia.

Namun Zudan menyayangkan, data kependudukan di Indonesia belum sempurna. Terutama penduduk yang sudah meninggal dunia. (zul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *