Bertahap per 1 April 2022
Jakarta, JNN – Pelaku usaha sektor pariwisata setidaknya bisa sedikit bernafas lega. Kabarnya, ketentuan karantina bagi pelaku perjalanan luar negeri (PPLN) yang tiba di Indonesia, bakal dihapus oleh pemerintah, per 1 April 2022.
Kabar sejuk tersebut ‘dihembuskan’ juru bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi, dalam sebuah kesempatan di Jakarta, Selasa (1/3/2022).
“Ketentuan ini diterapkan bertahap. Pemerintah melakukan penurunan jumlah hari karantina bagi pelaku perjalanan luar negeri secara bertahap,” ungkap jubir Kemenkes.
Ketentuan tersebut dilakukan bertahap melalui rangkaian uji coba yang dimulai pada 1 Maret 2022, dengan memangkas masa karantina dari sepekan menjadi tiga hari bagi pelaku perjalanan luar negeri, yang sudah mendapatkan vaksinasi lengkap atau booster.
Uji coba berlanjut pada 14 Maret 2022 dengan mencabut ketentuan karantina bagi pendatang di Provinsi Bali.

“Tentunya dengan kondisi kriteria persyaratan yang melihat perkembangan situasi, termasuk syarat vaksinasi dan pemeriksaan PCR,” imbuh perempuan yang karib disapa Nadia ini.
Sejak pintu kedatangan wisatawan di Bali dibuka pada 4 Februari 2022, tambah Nadia, lebih dari 16 ribu wisatawan mancanegara berdatangan ke Bali.
Nadia menyatakan hasil uji coba akan menentukan kebijakan lanjutan berupa peniadaan ketentuan karantina secara nasional yang dimulai per 1 April 2022.
“Pada 1 April direncanakan dilakukan pelaksanaan tanpa karantina untuk masuk ke Indonesia. Ketentuan lebih lanjut akan diatur dalam surat edaran Satgas Penanganan COVID-19,” ucap Nadia, yang juga Sekretaris Ditjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI itu.
Sementara itu dalam upaya menekan laju penularan Covid-19, imbuh Nadia, pemerintah mengubah ketentuan penggunaan electronic-Health Alert Card (e-HAC) sebagai Kartu Kewaspadaan Kesehatan Elektronik, yang ditujukan pada semua pelaku perjalanan domestik dan internasional selama pandemi Covid-19.
Mulai hari ini, kata Nadia, pemerintah memberlakukan pengisian e-HAC dilakukan sebelum pelaku perjalanan saat check in yang terintegrasi dalam aplikasi PeduliLindungi, sehingga pelaku perjalanan udara, laut dan darat domestik bisa mudah untuk mengaksesnya.
“Pengisian e-HAC pada hari H atau H-1 dari jadwal keberangkatan dan berisi informasi kelayakan perjalanan,” ujar dia.
Dipaparkan, jika sistem e-HAC menyatakan pelaku perjalanan tidak bisa dilanjutkan dengan status tidak layak, diarahkan ke petugas kesehatan bandara atau petugas dari Kantor Kesehatan Pelabuhan.
Selain itu, Nadia bilang, e-HAC juga memberikan informasi tidak layak jalan akibat konfirmasi Covid-19 dengan status warna hitam. Informasi layak jalan atau status hijau apabila pelaku perjalanan memenuhi persyaratan perjalanan.
Dijelaskan, persyaratan yang dimaksud mencakup hasil tes negatif PCR paling lambat 3×24 jam bagi yang baru mendapatkan vaksin dosis 1, atau hasil negatif tes usap Antigen paling lambat 1×24 jam sebelum keberangkatan, bagi yang sudah vaksinasi dosis lengkap. (zul-dik)

